Responsive Ad Slot

Latest

Menabung

Bisnis

Liburan

Featured Articles

(Tanya Jawab) Memilih Asuransi Pendidikan

Posted on Monday, 12 January 2015 1 comment

Monday, 12 January 2015

"Memilih asuransi pendidikan"

Memilih Asuransi Pendidikan

Mbak Mike yang baik,

Pertanyaan saya singkat saja ya. Sebenarnya saya ingin mengikuti salah satu program asuransi pendidikan untuk mempersiapkan biaya pendidikan bagi kedua anak saya. Tapi saya tidak tahu harus memilih yang mana. Mungkinkah mbak mike membantu saya? Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan terima kasih banyak.

Zuraida Intan P, Semarang.

Terima kasih.

Jawab :

Halo ibu Zuraida,

Dalam mempersiapkan dana pendidikan anak, maka mengikuti program asuransi pendidikan anak bisa Anda ambil. Asuransi pendidikan sendiri adalah sebuah kontrak asuransi jiwa antara perusahaan asuransi dan Anda sebagai orang tua yang menyebutkan bahwa Anda setuju untuk membayar sejumlah premi asuransi secara berkala kepada pihak perusahaan asuransi, untuk kemudia Anda akan mendapatkan jumlah dana pendidikan tertentu dari perusahaan asuransi pada saat anak Anda memasuki usia sekolah sesuai dengan jenjang pendidikannya. Apabila terjadi resiko kematian pada Anda yang menyebabkan setoran premi asuransi terhenti sementara si anak belum mendapatkan dana pendidikannya secara utuh, maka pihak perusahaan asuransi menjamin dana pendidikan akan tetap diberikan. Dengan mengambil asuransi pendidikan berarti Anda menabung sekaligus mengambil asuransi jiwa secara bersamaan

Dengan demikian pada asuransi jiwa Anda melakukan investasi secara rutin untuk mempersiapkan dana pendidikan anak dan sekaligus memproteksinya dengan asuransi jiwa untuk mengantisipasi resiko kematian pada Anda yang menyebabkan terhentinya investasi dana pendidikan anak Anda. Namun dengan begitu banyaknya produk asuransi pendidikan yang ditwarakan saat ini, tidak heran jika kita bingung memilihnya. Karena berdasarkan cara investasinya maka kiat-kiat atau pertimbangan-pertimbangan dalam memilih produk asuransi pendidikan dan adalah sebagai berikut :

1. Carilah produk asuransi pendidikan yang memberikan kemudahan dalam melakukan pembayaran premi misalnya jika besarnya premi tahunan terlalu berat maka bisa dibayar dengan premi triwulan. Bahkan kalau memungkinkan setoran preminya bisa dirubah sewaktu-waktu sesuai kondisi keuangan Anda, namun otomatis uang pertanggungannya juga berubah. Dengan demikian Anda bisa melakukan penyesuaian sewaktu-waktu sesuai dengan kondisi keuangan Anda.

2. Jika Asuransi pendidikan anak juga memberikan tambahan manfaat yang diberikan, contoh: dana bisa ditarik di tahun kesekian, diberikannya proteksi tambahan asuransi kesehatan  kalau kita cacat atau sakit, dll. Waspadailah sebab biasanya semua tambahan manfaat itu akan dibayar oleh kita. Lagipula belum tentu semua manfaat tambahan Anda perlukan Jadi kalaupun diberikan gratis, pastikan bahwa Anda tidak dikenakan biaya tambahan.

3. Karena asuransi pendidikan juga mengandung unsur investasi maka, return hasil investasi yang dijanjikan juga menjadi penting. Jadi bandingkanlah berapa hasil investasi yang bisa diberikan oleh suatu asuransi pendidikan yang satu dengan yang lain, dan pilihlah yang paling kompetitif. Biasanya perusahaan asuransi tidak bisa memberikan janji pasti tetapi asumsi saja berdasarkan pengalaman di tahun-tahun sebelumnya.

4. Cari agent yang sudah pengalaman (atau minimum sebagai pendamping). Sekali lagi mohon maaf kalau menyinggung. Tapi kembali lagi, perhitungan asuransi itu ruwet belum ditambah manfaat tambahan lainnya. Sangat disayangkan kalau kita membeli produk asuransi kemudian kecewa karena salah persepsi dengan agentnya. Tidak ada salahnya juga untuk menguji komitmen mereka. Jangan sampai ketemu agent yang hit and run. Carilah agen asuransi yang mempunyai komitmen jangka panjang untuk membantu klient dalam mengakses informasi, pencairan claim, dll.

5. Kredibilitas perusahaan asuransi. Kemudahan proses claim, pelayanan, menjadi beberapa key point dalam penentuan pembelian asuransi. Terutama kondisi keuangannya, pastikan perusahaan asuransi yang Anda pilih termasuk perusahaan yang dinilai sehat oleh badan otoritas disini yaitu Departemen Keuangan. Pastikan juga bahwa perusahaan asuransi tersebut bebas sengketa Untuk apa diimingi-imingi hasil investasi tinggi kalau ternyata sulit dicairkan. Untuk itu memang mesti rajin-rajin bertanya kiri kanan. Kalau perlu undang beberapa agent untuk banding-bandingkan. Agent jadi salah satu faktor penentu juga, tapi hati-hati, kadang agentnya ok tapi perusahaan tidak ok.

Malu bertanya sesat di jalan. Produk asuransi pendidikan itu sangat bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Dan sayangnya, cara perhitungannya juga sulit dimengerti oleh kalangan awam. Oleh karena itu, berdasarkan logika dan intuisi, rajin-rajin bertanya. Terlihat bodoh pun tak apa-apa. Jangan karena kasihan atau sungkan karena ditraktir agent lantas kita menyerah. Dipikirkan, didiskusikan, dibandingkan adalah langkah yang bijaksana sebelum memutuskan.

Semoga bermanfaat dan selamat mempersiapkan dana pendidikan anak.




(Tanya Jawab) Investasi Saat Suku Bunga Naik

Posted on 2 comments
"Investasi saat suku bunga naik"

Investasi Saat Suku Bunga Naik

Saya telah mencairkan reksa dana karena merugi terus, kemudian saya pindahkan ke tabungan. Saat ini dananya disimpan di tabungan dengan total Rp 635 juta Saya ingin mendapat keuntungan yang maksimal dari menyimpan uang di bank, sebab suku bunganya sedang naik terus. Namun apakah bijjaksana menyimpan semua uang di tabungan? Bagaimana saran Anda.

Jawab :

Menyimpan uang di tabungan memang sangat fleksible, Anda dapat menarik dananya kapan saja tanpa harus takut kena penalty. Tabungan juga tidak membuat Anda kehilangan nilai pokok investasi, pendapatan bunga yang diakumulasi akan membuat dana Anda berkembang. Begitu pula dengan deposito, mungkin tinggal masalah jangka waktu penempatan yang sedikit mengganggu Anda. Penempatan uang di deposito memang mensyaratkan jangka waktu tertentu. Jika dicairkan sebelum waktunya ada biaya penalty. Kompensasi dari ketidakluwesan deposito ini adalah bunga yang lebih tinggi dibandingkan tabungan. Bahkan semakin panjang jangka waktu depositonya bunga yang diberikan juga semakin tinggi. Contohnya pada saat ini suku bunga produk simpanan bank untuk tabungan adalah. Sedangakn bunga deposito 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan.

Jika kita amati kondisi saat ini trend suku bunga bank pemerintah mauapun bank swasta cenderung naik mengikuti kebijakan tingkat suku bunga Bank Indonesia. Belum dapat dipastikan kapan trend kenaikan suku bunga ini akan berhenti. Yang pasti begitu suku bunga berhenti naik. Pilihannya cuma ada dua, diam di tempat atau turun. Kalau begitu bagaimana memanfaatkan kenaikan suku bunga ini dalam berinvestasi? Khusus untuk investasi pada produk yang memberikan hasil berupa bunga maka pilihlah yang tidak mempunyai jangka waktu atau jangka waktu yang paling pendek. Sehingga tiap kali suku bunga berubah naik maka secara otomatis semakin tinggi pula bunga yang Anda terima. Tabungan harian tanpa jangka waktu menjadi alternatif simpanan yang paling fleksibel, Suku bunga tabungan tidak dipatok pada jangka waktu tertentu, begitu ada kenaikan bunga maka bunga tabungan juga disesuaikan kenaikannya. Deposito sedikit berbeda, sebab ada suku bunga yang dipatok sejumlah tertentu sesuai jangka waktunya. Alhasil jika terjadi kenaikan  suku bunga sedangkan deposito Anda belum jatuh tempo, maka perhitungan bunganya tidak mengikuti kenaikan suku bunga yang terjadi. Namun mengikuti ketentuan bunga sesuai perjanjian sebelumnya.

Kesimpulannya jika Anda lebih mengutamakan likuiditas maka tabungan harian lebih cocok dibandingkan deposito. Sebaliknya jika dananya belum akan digunakan untuk keperluan apapun dalam jangka waktu minimal setahun ke depan maka deposito lebih cocok karena memberikan return lebih tinggi dari tabungan. Namun mempertimbangkan trend kenaikan suku bunga, pilihlah jangka waktu deposito yang paling pendek seperti 1 bulanan. Sehingga tiap bulan Anda saat jatuh tempo, penempatan kembali depositonya akan mengikuti kenaikan suku bunga terbaru. Keuntungan ini tentunya sulit diaplikasikan pada deposito 3,6 atau 12 bulan. Begitulah cara memanfaatkan kenaikan suku bunga, tidak sulit bukan? 

Namun jangan gembira dulu, walaupun kenaikan suku bunga bank membuat Anda senang, ada bahaya inflasi yang harus kita waspadai. Kembali lagi jika kita perhatikan tingkat inflasi saat ini juga tidak kalah tinggi dengan suku bunga bank. Data statistik terakhir menyatakan tingkat inflasi % pertahun. Jika dibandingkan dengan tabungan dan deposito selisihnya sedikit. Belum lagi jika memperhitungkan pajak dan biaya administrasi, Artinya investasi di tabungan dan deposito bisa tergerus inflasi, bahkan minus. Karena itu jika menginginkan hasil investasi yang maksimal tempatkan dana Anda pada produk investasi dengan return diatas inflasi.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah kenyataan bahwa  bank-bank saat ini berlomba menaikkan bunga dan menawarkan pelbagai iming-iming hadiah. Deposan yang punya dana besar seperti Anda berpeluang mendapat tarif khusus dan perlakuan khusus pula. Padahal memberi bunga cukup tinggi tentu saja berpengaruh pada beban cost of fund dari bank. Pasalnya ongkos untuk memberikan bunganya juga lebih besar, terutama untuk deposito. Adu iming-iming bunga plus hadiah bisa menjerumuskan bisnis perbankan sendiri. Nasabah semakain menuntut bunga tinggi juga hadiahnya, alhasil  bank dengan modal kecil tentu kewalahan.

Berangkat dari sini maka menaruh semua uang kita di bank bisa jadi bukan tindakan yang paling bijaksana. Lagi pula sesuai dengan pedoman investasi “Jangan taruh semua telur Anda dalam satu keranjang”. Bayangkan saja jika seluruh uang Anda disimpan di tabungan dan deposito, padahal returnnya tergerus inflasi. Akibatnya keseluruhan dana Anda secara riil tidak berkembang. Tetapi jika dibagi-bagi ke tabungan, deposito, reksa dana, emas, property atau dolar maka keselurahan dana Anda tdiak semuanya tergerus inflasi bukan? Sebab invesatsi dalam bentuk reksa dana, emas, property atau dolar berpotensi memberikan hasil lebih tinggi disbanding tingkat inflasi.

Saran saya agar Anda melakukan diversifikasi, yaitu strategi untuk menyebar risiko investasi. Intinya kombinasikan penempatan dana Anda di beberapa produk investasi dengan risiko yang berbeda. Sehingga kelemahan di salah satu produk investasi dapat dicover dengan kelebihan pada produk investasi yang lain. Misalnya selain di tempatkan di tabungan dan deposito dengan skema diatas, bagi-bagilah penempatan dana Anda ke tempat lain seperti reksa dana pasar uang, emas atau property. Terakhir harus juga dipahami bahwa semakin tinggi return suatu produk investais semakin tinggi pula risikonya. Karena itu pemilihan produk investasinya tentunya harus disesuaikan dengan toleransi Anda terhadap risiko investasi



(Tanya Jawab) Penghasilan Tidak Rutin Sebagai Agen Asuransi

Posted on 1 comment
"Penghasilan tidak rutin sebagai agen asuransi"

Penghasilan Tidak Rutin Sebagai Agen Asuransi

Sebagai agen asuransi gaji pokok yang saya terima jumlahnya tidak besar, jadi tidak bisa mengcover pengeluaran bulanan. Tetapi komisi dari polis yang terjual lumayan besar. Namun besarnya jumlah komisi tidak tetap dan seringkali 3-4 bulan baru terima. Tapi begitu terima komisi besar jadi bernafsu belanja, soalnya beberapa bulan puasa dulu sih. Apalagi pengeluaran saya untuk modal kerja cukup besar terutama untuk transportasi juga entertainment para klien. Akibatnya kadang saya punya uang banyak, kadang nyaris tidak ada sama sekali. Apakah saya harus lebih giat menjual polis atau lebih giat menabung? Bagaimana pengelolaan keuangan yang tepat untuk kondisi penghasilan seperti saya?

Jawab

Mengelola penghasilan yang jumlahnya tidak tetap tetap tidaklah sesulit yang kita duga. Hanya saja kita harus lebih berhati-hati dan teliti dalam memperkirakan berapa dan kapan kita mendapat penghasilan serta berapa dan kapan pengeluaran akan dilakukan. Inilah masalahnya, penghasilan Anda yang tidak rutin berkebalikan dengan pengeluaran yang rutin. Anda mengalami dimana kadang punya uang banyak (gaji pokok + komisi), kadang pasa-pasan (gaji pokok) bahkan nyaris tidak ada sama sekali. Penghasilan Anda mengalami pasang surut dalam kurun waktu tertentu kalau tidak bisa dibilang fluktuatif. Disinilah terjadi ketidak sesuaian antara waktu diterimanya dan besarnya penghasilan, dengan waktu dikeluarkannya dan besarnya pengeluaran yang dilakukan. Penghasilan dalam jumlah yang bisa mengcover pengeluaran ternyata tidak rutin, baru diterima per 2 atau 3 bulan, bahkan kadang lebih lama dari itu. Padahal Anda terus mengeluarkan biaya rutin tiap bulan yang besarnya lebih dari gaji pokok. Ditambah lagi kebiasaan menghabiskan uang dalam sekejap saat menerima komisi besar, dengan alasan perayaan setelah ”puasa belanja” beberapa waktu.

Jika diteruskan kebiasaan ini, maka tidak peduli betapa giatnya menjual polis, komisinya walaupun semakin besar akan habis begitu saja. Ini artinya penghasilan berapapun besarnya tidak pernah cukup, sebab begitu penghasilan naik, pengeluarannya juga jadi naik. Karena itu saya justru mendorong Anda untuk semakin giat menjual polis, namun semakin ditingkatkan pula tabungannya dan sepanjang waktu terapkanlah pola hidup sederhana yang tidak mudah terpicu dengan gaya hidup konsumtif.

Saran saya adalah agar Anda menerapkan pola anggaran rata-rata tahunan, untuk mengelola keuangan Anda. Pola anggaran rata-rata tahunan adalah adalah anggaran yang dibuat berdasarkan asumsi rata-rata penghasilan dan pengeluaran tahunan. Tujuannya adalah agar antara penghasilan dan pengeluaran dapat disesuaikan waktu dan besarnya. Sehingga jika telah diketahui berapa penghasilan rata-rata tahunan, maka bisa diketahui berapa penghasilan rata-rata bulanannya. Selanjutnya tinggal menyesuaikan antara pengeluaran bulanan yang rutin dengan asumsi penghasilan rata-rata bulanan tadi. Jika pengeluaran bulanan lebih besar dari penghasilan rata-rata bulanan tadi, maka lakukanlah penghematan agar tidak terjadi defisit anggaran rumah tangga. Untuk lebih mudahnya, ikutilah langkah-langkah berikut :

Bagian I : Miliki 3 tempat uang yang terpisah

1. Tempat uang pertama adalah rekening operasional, yaitu tabungan tempat tranfer  gaji dan komisi di terima. Jumlah dana yang disimpan disini maksimal 1 (satu) kali pengeluaran per bulan. Jika ada kelebihan dana karena mendapat transfer gaji & komisi, pindahkan ke rekening Dana Cadangan.

2. Tempat uang ke dua adalah Dana Cadangan, yaitu tabungan atau deposito terpisah dari rekening operasional. Jumlah dana yang disimpan disini adalah sebesar 6 kali pengeluaran keluarga per bulan.

3. Tempat uang ke tiga adalah investasi yaitu rekening tabungan, deposito, asuransi, reksa dana atau jenis produk investasi lainnya.

Bagian II : Tetapkan penghasilan rata-rata dan pengeluaran rata-rata tiap bulan

1. Langkah 1 : Hitunglah berapa penghasilan Anda per tahun. Gaji pokok sudah jelas jumlahnya, tinggal mencari besarnya komisi. Lihat buku tabungan Anda dan cek setahun terakhir berapa dan kapan saja Anda menerima komisi. Jumlahkan gaji pokok dan komisi, kemudian bagi 12 bulan untuk mendapatkan penghasilan rata-rata bulanan.

2. Langkah 2 : Hitunglah berapa pengeluaran Anda per bulan.

3. Langkah 3 : Kurangi asumsi rata-rata penghasilan bulanan (langkah 1) dengan pengeluaran rata-rata per bulan (langkah 2). Jika terjadi selisih kurang, dimana pengeluaran lebih besar daripada penghasilan maka lakukankah penghematan. Usahakan agar besarnya pengeluaran bulanan hanya menghabiskan 80% dari rata-rata penghasilan bulanan. Jumlah (1 x 80% penghasilan rata-rata bulanan) inilah yang disimpan di rekening operasional.

Bagian III : Bentuk skema penggunaan uang

1. Pada saat menerima komisi yang jumlahnya bisa beberapa kali dari penghasilan bulanan, maka jangan tergoda untuk menaikkan pengeluaran lebih dari rata-rata pengeluaran bulanan. Sisihkan di rekening operasional sebesar 1 kali pengeluaran per bulan

2. Selanjutnya, periksa Dana Cadangan, jika jumlahnya kurang dari 6 kali pengeluaran keluarga per bulan, maka sisihkan dari gaji & komisi untuk menambah kekurangan dananya. Dana Cadangan berfungsi untuk mengcover pengeluaran rata-rata bulanan pada saat Anda sedang tidak menerima komisi. Jika Dana Cadangan berkurang karena terpakai, maka begitu mendapat komisi setorlah sejumlah Dana Cadangan yang terpakai.

3. Selanjutnya, sisa komisi yang belum terpakai setorkanlah atau belikanlah produk investasi

Nah, penghasilan yang tidak rutin bisa jadi lebih sulit dikendalikan, tetapi hal ini bukanlah suatu masalah yang tidak bisa diatasi. Kuncinya adalah dengan mengetahui terlebih dulu pola penghasilan dan pengeluaran Anda, barulah bisa mengatasi gap yang terjadi antara keduanya.



Don't Miss